Showing posts with label kisah. Show all posts
Showing posts with label kisah. Show all posts

Sunday, December 8, 2013

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/3/31/Adventures_of_pinocchio_ver1.jpgKisah boneka kayu Pinokio (Pinocchio) yang dibuat oleh seorang tukang kayu di Florensia mungkin adalah kisah anak yang paling dikenal di seluruh dunia.

Penelitian terbaru mengungkap bahwa kisah yang ditulis oleh Carlo Collodi 130 tahun lalu pada 7 Juli 1881 memiliki akar yang kuat dengan dunia nyata.

Menurut Alessandro Vegni, seorang ahli komputer, yang membandingkan kisah itu dengan peta sejarah, kisah Pinokio berseting di desa Tuscan di San Miniato Basso, yang terletak di pertengahan antara Pisa dan Florensia. Nama asli desa tersebut sebenarnya adalah "Pinocchio."

Kisah Geppetto dan boneka kayu pinusnya, dibuat berseri dalam majalah anak-anak Italia dengan judul La Storia di un Burattino (Kisah Seorang Marionette) pada tahun 1881, dan kemudian diubah menjadi buku dua tahun kemudian yang diberi judul "Petualangan Pinokio."

Dipercaya sebagai buku kedua, setelah Injil, yang paling awal diterjemahkan ke bahasa lain, novel itu menginspirasi ratusan edisi barunya, drama panggung, pernak-pernik dan film seperti film animasi Disney.

Namun detil-detil terbaru mengenai kota Florentina dalam kisah itu mengungkapkan detil baru yang menkajubkan tentang karya ikonik itu.

"Nama desa itu (San Miniato Basso) yang sekarang diberikan pada tahun 1924," ungkap Vegni.

"Kami mengetahui dari rekaman sejarah bahwa desa itu aslinya Pinocchio, kemungkinan dinamakan seperti nama sungai yang ada di dekat desa itu."

Collodi sudah pasti tahu desa itu. Ayahnya, seorang koki terkenal, hidup di dekat desa itu selama beberapa tahun. Pada tahun 1825, setahun sebelum kelahiran Carlo, ayahnya pindah dari kawasan Pinocchio ke Florensi untuk bekerja bagi Marquis Lorenzo Ginori Lisci.

Vegni percaya bahwa Collodi tak hanya mengunjungi San Miniato, tapi juga bertemu beberapa orang disana dan sangat mungkin ia menggunakan orang-orang itu untuk menginspirasi karakter-karakternya.

"Saat Geppetto menamakan bonekanya, ia berkata bahwa ia tahu seluruh keluarga Pinocchio: ayah Pinocchio, ibu Pinocchio, dan anak-anak Pinocchio. Penduduk asli San Miniato disebut Pinocchi atau Pinocchini."

Dimulai dari San Miniato, penelitian Vegni menunjukkan sejumlah kesamaan dengan kisah Collodi.

Terdapat "casa Il Grillo" (Rumah Jangkrik), sebuah bangunan pedesaan yang namanya mungkin merujuk pada Jangkring Yang Berbicara dan desa Osteria Bianca (Penginapan Putih) dimana pubnya masih ada yang Vegni percaya menginspirasi Penginapan Udang Merah dalam cerita.

Yang menarik, si Rubah dan Kucing yang bertemu dengan Pinokio nampaknya berhubungan dengan dua segi dalam peta: Rio delle Volpi (Sungai Rubah) dan dua rumah yang disebut "Rigatti" (berasal dari kata "gatti" yang berarti kucing-kucing).

Tak jauh dari situ, desa La Lisca (Tulang Ikan) bisa jadi menginspirasi alur kisah Pinokio yang ditelan oleh ikan paus.

Yang pasti, nama-nama tempat itu memainkan peran ketika penulis Pinokio memilih nama penanya.

Teralhir dengan nama Carlo Lorenzini, sang penulis menggunakan nama Carlo Collodi seperti nama kampung halaman ibunya, Collodi, dekat Pistoia di Tuscany.

Namun tak semua orang setuju dengan klaim Vegni ini.

Menurut Gianni Greco dari Asosiasi Pinokio, Pinocchio berseting antara Florensia dan Castello, di sebuah kotak kecil di dekatnya.

"Penelitian ini menarik, tapi aku tidak percaya bahwa Lorenzini terinspirasi oleh San Miniato dan lingkungannya," kata Greco, yang memiliki koleksi besar pernak-pernik Pinokio, termasuk edisi pertamanya.

"Dia menghabiskan musim panasnya di Castello di villa saudara laki-lakinya dan disana dia menulis ceritanya. Di Castello dia bertemu Giovanna Ragionieri, seorang gadis pirang kecil denagn mata baru yang dikatakan menginspirasi karakter Peri Berambut Biru," kata Greco.

Saturday, October 26, 2013

Selain memiliki keindahan alam, sebuah daerah dikatakan unik dikarenakan beberapa hal, ada yang unik dikarenakan letak geografisnya, ada juga yang dikatakan unik dikarenakan budaya atau kebiasaan penduduknya.

Tapi ada sebuah desa / daerah di China dengan kebiasaan unik penduduknya sehingga desa ini ini sering disebut "Desa Ular", mengapa demikian ? Simak artikel berikut untuk lebih jelasnya.

Desa Zisiqiao terletak di pusat daerah pertanian yang luas di propinsi Zhejiang, China timur, desa yang sepi itu menyembunyikan sebuah "rahasia maut". Orang luar yang masuk kesetiap rumah keluarga petani di sana akan tersentak kaget dibuat piaraan penduduk. Mereka akan melihat langsung ribuan dari sebagian makhluk paling ditakuti di dunia, yaitu ular dan ular ular disini yang yang banyak ular berbisa.

Cobra, viper dan python terdapat di mana-mana di Zisiqiao, yang memang dikenal sebagai desa ular. Di sana reptilia itu sengaja dipelihara penduduk untuk digunakan sebagai bahan makanan dan obat-obatan tradisional, yang menghasilkan jutaan dolar buat desa tadi yang tanpa sumber tersebut cuma akan mengandalkan pertanian saja.

"Sebagai desa ular nomor satu di China, kami tidak mungkin memelihara hanya satu jenis ular saja," ujar Yang Hongchang, 60, petani yang memperkenalkan pembiakan ular kepada desa tadi beberapa dekade lalu.

Pada tahun 1985, Yang mulai menjual ular hasil tangkapannya di sekitar daerah itu kepada para pembeli binatang. Dia segera mulai cemas bahwa ular-ular liar akan habis, karena itu pria tadi mulai meriset tentang cara membiakkan ular di rumah.

Dalam waktu tiga tahun kemudian, dia menjadi kaya -- dan banyak penduduk lain memutuskan untuk meniru suksesnya. Dewasa ini, lebih tiga juta ekor ular dibiakkan di desa itu setiap tahun oleh 160 keluarga tani. Ular-ular itu dikenal karena properti obat dalam obat-obatan tradisional Tionghoa dan biasa diminum seperti sup atau anggur untuk menambah kekebalan tubuh seseorang.

"Cara pembiakan orisinal kami telah disetujui dan diakui oleh pemerintah kabupaten dan propinsi. Mereka memandang kami sebagai korporasi yang bekerjasama dengan para keluarga petani," singkap Yang. "Jadi perusahaan itu meneliti ular-ular tersebut dan mereka menyerahkannya kepada para pembiak di desa. Mereka mengatakan model ini berjalan dengan baik."

Metode pembiakan orisinal itu dulu cukup dengan menempatkan jantan dan betina di satu tempat, tapi kini riset teliti dilakukan untuk mengetahui bagaimana ular-ular itu membiak, bagaimana memilih betina yang bagus, meneliti makanan mereka, dan bagaimana mengeramkan telur-telur agar tingkat kelangsungan hidupnya naik.

Meningkatnya permintaan akan produk-produk ular dari restoran dan balai-balai pengobatan seiring dengan naiknya tingkat kekayaan dan dorongan pemerintah mengembangbiakkan binatang itu untuk digunakan dalam obat-obatan tradisional, para penduduk Zisiqiao dewasa ini menikmati penghasilan tahunan mencapai ratusan ribu yuan. Yang Yiubang, 46, telah memelihara ular di kediamannya selama lebih 20 tahun dan mengatakan pendapatan tahunannya terus naik. "Permintaan akan obat-obatan tradisional Tionghoa cukup tinggi di China," ujar pria tadi. "Setelah kami selesai memproduksi ular kering, sebagian besar dikirim ke pabrik-pabrik obat. Ini juga termasuk hati dan empedu ular.

Yang Hongchang menambahkan berbagai produk ular dari desa itu kini diekspor secara global ke berbagai negara seperti AS, Jerman, Jepang dan Korea Selatan. Di daerah sekitarnya, produk-produk ular dari desa itu dijual di kota besar Hangzhou, Zhejiang, tempat Hangzhou Woai Company menawarkan bermacam barang termasuk bubuk ular. "Setiap bagian tubuh ular itu berharga," ujar manajer toko Gao Chengchang.

"China memiliki suatu budaya ular yang kuat, terdapat banyak orang -- seperti di Guangzhou --yang suka memakan ular." Dengan produk-produk ular spesial, bisnis beromset jutaan dolar di desa tadi membuat iri banyak komunitas desa lainnya. Namun Yang Hongchang mengatakan persaingan kini ketat dari pembiak lain yang memelihara ular pada skal lebih besar daripada desanya. Selain itu, memelihara ular bukan berarti tidak ada risikonya.

Para pemelihara ular mengaku mereka digigit, sebagian oleh ular-ulat berbisa, dan hanya bisa diselamatkan dengan suntikan obat anti bisa. Yang Wenfu, 55, jera dan tak mau lagi memelihara ular viper berbisa setelah kena gigit salah satu darinya pada awal karirnya.

Foto foto kegiatan penduduk desa Zisiqiao :















Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!